Pantang Pisang Berbuah Dua Kali


Pantang Pisang Berbuah Dua Kali


Mentari sudah terik diujung timur, bayangan pohon-pohon, bangunan, mulai terlihat memanjang, dan terik matahari mulai terasa hangat. Bersiap menuju ke lokasi resepsi pernikahan Sinta, salah satu teman semasa duduk di Sekolah Menengah Atas.
Kring… kring. ( hp androidku berdering).
Hallo Tio . “Jawabku”. Kamu sudah siap belum, ayo berangkat ini sudah jam 10.30 WIB. “Tanya Tio”. Astaga, ini aku sudah siap, tinggal berangkat.”Jawabku sambil berjalan menuju ke mobil.” Ok, aku tunggu dirumah.”Jawab tio”.
Pukul 11.00 WIB, kami sudah sampai di tempat acara. Langsung menuju ke tempat mempelai dan mengucapkan selamat pada mereka. Rian ayo ambil makan, aku sudah lapar ini.”Rengekan Tio sambil memegang perutnya.” Iya , ayo aku juga sudah lapar.”Jawabku”. Kita duduk dimana ini Rian?”Tanya tio lagi”. Dibelakang saja biar langsung cepat pulang.”Jawabku”.
Matahari sudah berada tepat diatas kepala, adzan dzuhur sudah mulai terdengar. Kami pun pamit pulang pada kedua mempelai dan menuju mobil. Kami berdua asyik bercakap menuju mobil dan tiba-tiba.
Bruk…
Aku menabrak seorang wanita dan dia terjatuh. Ku bangunkan dia dan ternyata itu Fina. Aku kaget dan terdiam. Fina ? Rian ? (Sambil menunjuk keaarah masing-masing). Kamu datang dengan siapa? Dengan ayahku.”jawab dia”. Mana suamimu ? (Fina terdiam). Dia sudah lama bercerai dengan suaminya jadi dia datang dengan Om (Sambut ayahnya Fina yang muncul dari belakang Rian). Eh om, oh gitu.”Jawabku kaget”. Maaf Fina aku tak bermaksud. Tidak mengapa Rian, sebenernya aku menyesal tidak menunggumu 2 tahun yang lalu. Seharusnya aku tak ragu. Seharusnya aku menikah denganmu. Dia itu kasar dan tak bertanggung jawab. Maafkan aku Rian. Iya Rian maafkan Fina, dan om ingin kamu bersatu kembali dengan Fina. “sambut ayahnya Fina lagi”. Tunggu om, untuk masalah itu aku sudah melupakannya, tapi maaf untuk kembali lagi besama Fina aku tak bisa. Pantang Pisang Berbuah Dua Kali! (Meninggalkan mereka menuju mobil).




Comments